Skip to main content

Mencari Jodoh Jangan Asal-Asalan

Jika saya ngobrol dengan seseorang tentang jodoh, baik itu yang sudah kenal ataupun orang yang baru kenal, biasanya mereka (utamanya orang yang sudah tua) sering mengatakan pada saya bahwa mencari jodoh itu jangan sembarangan.

Saat saya renungkan kata-kata tersebut memang sangatlah benar. Selama ini kebanyakan orang menikah itu rata-rata karena alasan cinta, cinta yang hanya melihat segalanya hanya dari sisi luar saja seperti fisik dan harta.

Saat pacaran banyak orang yang merasa nyaman dan cocok berada di samping pasangannya. Tapi setelah menikah semuanya menjadi sangat berubah. Sering cekcok karena tidak satu pemikiran, dan tak sedikit yang akhirnya bercerai.

Saya sering sekali melihat pertengkaran di dalam rumah tangga hanya gara-gara hal sepele. Saya juga pernah melihat istri durhaka yang sering memarahi, mengatur-ngatur dan menindas suaminya.

Dan banyak orang yang telah berumah-tangga curhat pada saya tentang ketidak-cocokan rumah tangganya. Padahal saya tak mengerti apa-apa dan tak tahu harus berbuat apa.

Mungkin mereka hanya ingin mengeluarkan kesedihan yang terpendam dalam hatinya yang tak bisa ditahan lagi. Sehingga saya pun banyak mendapat pelajaran dari kejadian mereka.

Kita yang biasanya melihat segala sesuatu hanya berdasarkan mata lahir sering tertipu.

Disaat pacaran semua orang ingin selalu tampil perpect, sehingga yang terlihat hanya yang baik-baiknya saja. Sedangkan kejelekannya disembunyikan serapat-rapatnya.

Dan setelah menikah semuanya sifat aslinya terbuka karena setiap waktu bertemu dan tak ada lagi ruang dan waktu untuk meneyembunyikannya.

Seseorang wanita yang secara lahir terlihat baik, lulusan pesantren, ahli pengajian, tampilan syar'i dan rajin shalat belum tentu akhlaknya baik dan taat pada suaminya.

Dan orang yang penampilannya tidak syar'i, bukan pesantrenan dan ngaji jarang belum tentu jelek akhlaknya.

Yang ini pernah saya temukan dalam kehidupan nyata, dimana ada 2 perempuan kakak adik, yang satu lulusan pesantren, tampilan selalu syar'i dan ahli pengajian, dan yang satunya tidak pernah masuk pesantren dan jarang syar'i.

Tapi saat menikah, justru yang taat dan patuh pada suaminya yaitu yang bukan lulusan pesantren. Sedangkan yang lulusan pesantren tidak taat dan sering menyakiti perasaan suaminya serta membuat suaminya menangis.

Ini merupakan pengalaman nyata yang berharga untuk saya bahwa segala sesuatu yang terlihat baik secara lahir, belum tentu terlihat baik secara batin.

Ada sesuatu hal yang menarik bagi saya, kenapa orang tua jaman dulu menikah itu dijodohkan tapi hubungannya bisa langgeng sedangkan orang jaman sekarang mencari jodoh sendiri tapi banyak yang putus di tengah jalan.

Dan ternyata orang tua jaman dahulu bisa menyibak rahasia tentang ilmu kecocokan jodoh sebagai jalan ikhtiar menemukan jodoh terbaik.

Sehingga orang tua jaman dahulu menjodohkan seseorang tidak asal-asalan, bukan melihat fisik dan harta, tapi dari segi kecocokan pasangan yang akan dinikahkan.

Jika pasangan cocok, segala kekurangan yang ada pada diri masing-masing bisa saling melengkapi. Sedangkan jika tidak cocok, kekurangan pada diri mereka akan selalu menjadikan pertengkaran.

Sampai sekarang pun masih ada sebagian orang tua yang melestarikan budaya orang tua jaman dahulu, yang mana sebelum menikah suka ditanya dahulu hari lahir atau wedalannya.

Memang agak sedikit klenik dan tidak masuk akal. Tapi pada kenyataannya memang seperti itu, banyak yang pernikahannya langgeng hingga akhir hayat.

Sama halnya dengan para pejuang jaman dahulu yang mengusir penjajah Belanda hanya dengan bambu runcing.

Sekilas memang tidak masuk akal, bagaimana mungkin bambu runcing bisa mengalahkan senjata modern. Kenyataannya Belanda bisa terusir.

Rahasianya masyarakat dan ulama bersatu melawan penjajah dengan tarekat/thariqah (jalan mendekatkan diri pada Allah), sedangkan bambu runcing hanya media saja.

Comments